Selasa, 09 Februari 2010
Tampomas II VS Titanic
Jika kita pernah menyaksikan film Titanic, tentang tenggalamnya sebuah kapal raksasa yang melegenda, tentunya yang terasa adalah kepiluan saat ratusan orang tenggelam meregang
nyawa bersamaan dengan tengelamnya kapal itu.
Perasaan itu juga yang dialami pada hari Selasa 27 Januari 1981 pada pukul
13.42 Waktu Indonesia Bagian Tengah, di perairan dekat kepulauan Masalembu, saat KMP
TAMPOMAS II milik Pelni yang mengangkut ratusan penumpang perlahan-lahan lenyap
ditelan lautan yang ganas, tenggelam untuk selamanya.
Tampomas II berangkat dari pelabuhan Tanjung Priok Jakarta pada hari Sabtu 24
Januari pukul 19.00 WIB. Dijadwalkan sampai di Ujung Pandang pada hari Senin
pukul 10.00 pagi. Data yang ada menyebutkan ada 1054 penumpang, 191 mobil dan
sekitar 200-an motor yang berada di atas kapal tersebut.
Hari Minggu malam tanggal 25 Januari sekitar pukul 23.00 WITa Syahbandar Ujung
Pandang menerima berita dari KM Wayabula, bahwa KM Tampomas II terbakar di
perairan kepulauan Masalembu sekitar 220 mil dari Ujung Pandang. KM Wayabula
sendiri mendapat berita dari KM Sangihe yang saat itu tengah berusaha
mengevakuasi penumpang Tampomas II.
Namun cuaca bulan Januari memang tidak pernah bersahabat. Ombak besar setinggi 7
hingga 10 meter, disertai angin kencang 10 hingga 15 knot yang terus menderu,
menghambat usaha penyelamatan. Sehari semalam KM Sangihe hanya mampu memindahkan
149 penumpang Tampomas II ke kapalnya.
Senin malam itu, Sekditjen Perhubungan Laut dalam siaran televisi menyatakan
bahwa KM Tampomas II mengalami kerusakan mesin sehingga harus lego jangkar di
perairan tersebut. Disebutkan juga bahwa sempat terjadi kebakaran, tapi semuanya
sudah bisa diatasi. Kapal masih terapung dan para penumpang juga sudah tenang
menunggu di dek.
Namun nyatanya, pada hari Selasa pagi tampak masih ada asap tipis mengepul di
bagian belakang kapal. Dan siang harinya api membesar kembali. KM Tampomas II
akhirnya miring dan tenggelam dengan cepat di posisi 114°25′60″BT — 5°30′0″LS.
Kapal-kapal lain yang berada di sekitar lokasi, KM Sangihe, KM Adiguna Kurnia,
KM Istana VI, KM Ilmamui, KM Niaga XXIX, dan beberapa kapal lain berusaha
semampunya untuk menyelamatkan penumpang Tampomas II yang terapung-apung di laut
setelah melompat dari kapal.
Dari data terakhir disebutkan bahwa 753 orang penumpang KM Tampomas II berhasil
diselamatkan termasuk awak kapal. Ditemukan 143 jenazah. Berapa sisanya yang
tidak ditemukan masih menjadi tanda tanya. Penumpang yang terdaftar ada 1054
orang, namun sudah menjadi kebiasaan dan rahasia umum bahwa penumpang gelap yang
naik bisa mencapai ratusan orang. Beberapa sumber menyatakan jumlah penumpang KM
Tampomas II sebenarnya berjumlah 1442 orang. Bahkan koki kapal yang selamat
mengaku diperintahkan atasannya agar memasak untuk 2000 orang.
Banyaknya korban disebabkan karena para ABK tidak tahu cara menurunkan sekoci,
karena selama ini latihan penyelamatan yang ada tidak pernah benar-benar dilakukan
dengan lengkap. Sementara itu ada lagi pengakuan dari perwakilan pelni di Ujung Pandang
bahwa saat Tampomas II baru terbakar ia sempat mendapatkan instruksi dari Jakarta agar
memberikan keterangan bahwa kebakaran yang terjadi di Tampomas II tidak
membahayakan. Keterangan2 menyesatkan itu menyebabkan beberapa pihak yang hendak
membantu proses penyelamatan mengurungkan niatnya.
Proses penyelamatan yang lambat dan berlangsung selama 37 jam hingga kapal
tenggelam membuat penumpang yang bertahan di geladak kapal harus bertahan tanpa
makanan dan minuman. Dropping makanan dari udara tidak semuanya tepat pada
lokasi penumpang.
Selama 5 hari mereka terapung2 di lautan di atas sekoci bersama sekitar 80-100 orang lainnya
tanpa makanan. Sekoci yang kelebihan muatan itu bahkan sempat terbalik. Ketika berhasil
dikembalikan ke posisi semula hanya tersisa 70 orang. Pada hari kelima barulah mereka
menemukan daratan yaitu pulau Doang-doangan Sulawesi Selatan. Sesampai di darat
2 orang menghembuskan nafas terakhir.
Mungkin yang paling patut dipuji bahkan dijadikan pahlawan adalah Kapten Kapal
Tampomas II ini sendiri. Capt. Abdul Rivai. Komitmen dan dedikasinya sungguh
sangat menggetarkan. Dalam keterbatasannya, dialah yang paling sibuk
menyelamatkan penumpang lain tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri, saat
ABK lain malah melarikan diri pada saat-saat awal.
Saat kapal sudah mulai miring, Capt. Abdul Rivai masih tampak sibuk membagikan
pelampung ke para penumpang yang tidak berani terjun ke laut. Bahkan di detik2 terakhir saat
kapal mulai tenggelam, Capt. Abdul Rivai masih terlihat berada di anjungan kapal sambil
berpegangan pada kusen jendela.
Aksi heroik Capt. Abdul Rivai memberikan inspirasi kepada penyanyi dan penulis
lagu terkenal Ebiet G. Ade untuk menulis sebuah lagu yang didedikasikan kepada
sang Kapten. Di kemas dalam album kelima Ebiet yang diluncurkan di tahun 1982
bertajuk "Langkah Berikutnya". Lagu itu berjudul "Sebuah Tragedi 1981"
KM Tampomas II milik Pelni ini baru melakukan pelayaran perdananya pada bulan
Mei 1980. Tapi bukan berarti ini kapal baru. KM Tampomas II dengan bobot mati
2420 ton dan mampu mengangkut penumpang 1250 sampai 1500 orang. Kapal ini sebelumnya
bernama MV. Great Emerald dibuat di Jepang tahun 1971. (Berbagai Sumber)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar